Jawaban atas Artikel. Rabu, 26 Maret 2003 (Pikiran Rakyat) Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda Oleh DADAN WILDAN

Memprihatinkan, Penulisan Sejarahnya Hanya Warisan Penjajah Perjumpaan Islam dengan Tradisi Sunda Oleh ENGKUS RUSWANA K.

Sumber : Pikiran Rakyat Artikel. Sabtu, 14 Juni 2003

BELAKANGAN ini agak sering muncul tulisan maupun pandangan mengenai perjumpaan Islam dengan budaya Sunda. Penulis merasa terusik untuk mengkaji ulang klaim-klaim sebagian masyarakat yang mengatakan Islam identik dengan Sunda dan Sunda identik dengan Islam.


Ada masyarakat yang mengungkapkan bahwa di masyarakat Sunda terdapat juga penganut agama Sunda Wiwitan, komunitas pengikut Madrais dan komunitas pengikut Mei Kartawinata yang masih mempertahankan ajaran leluhurnya. Menurut pengetahuan penulis, penghayat atau kelompok masyarakat yang masih menghormati dan melaksanakan ajaran leluhur Sunda tidak hanya terdapat di Kanekes Baduy, Ciptagelar Sukabumi, Cigugur Kuningan, dan Ciparay Bandung. Banyak sekali masyarakat yang memegang teguh ajaran leluhurnya, tapi karena pertimbangan tertentu belum berani mengungkapkan keyakinannya.

Penulis merasa perlu memberikan ulasan sehubungan dengan ada kajian yang tidak lengkap yang mengundang penafsiran negatif dan pandangan yang keliru terhadap masalah tersebut di atas. Bahkan, ada bahasan yang tidak didukung oleh kajian mendalam khususnya yang berkaitan dengan ajaran Madrais dan ajaran Mei Kartawinata.

(more…)

Seperti telah menjadi pengertian umum PANCASILA adalah Religious Sosialisme (Religious Socialist), maka tidak dapat diartikan lain, bahwa di dalam tubuh Pancasila terdapat kehidupan religi yang menjiwai sosialisme, atau sebaliknya, sosialisme sebagai perwujudan kehidupan religious, yang satu memberi isi, yang lainnya menunjukkan wujudnya.

Sebagai falsafah hidup, Pancasila merupakan rangkaian yang tak terpisahkan, bagaikan lingkaran yang tiada ujung pangkal antara sila yang satu dengan yang lainnya.
(more…)

1. Aku dilahirkan dalam pawenangan ini bukanlah kehendak Ibu dan/atau Bapak, melainkan atas kehendakNya (KersaNing) Tuhan Yang Maha Esa dilengkapi dengan lahir dan batin, yang terserahlah kepada Aku, untuk menggunakan menurut kehendaknya sendiri.

2. Namun demikian kekuasaan Tuhan secara mutlak berlaku atas semua UmatNya tanpa terkecuali dan berlaku sepanjang masa. Siapa yang memegang api akan terbakar. Siapa yang menanam kebaikan akan mengunduh kebaikan.

3. Meskipun kelahiran Aku, atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa, namun kenyataan Aku dilahirkan dan dibesarkan oleh Ibu dan Bapak penuh dengan kasih sayang dengan cara:
(more…)

Terinspirasi oleh Right Brain Concept (Konsep Otak Kanan) dalam bentuk buku yang sebagian materinya telah berhasil ditulis ulang dalam bentuk Web Format – HyperText Markup Language (HTML). Terbersitlah ide untuk mendokumentasikan sebagian budi daya pikir bangsa Indonesia yang pada masa kini cenderung terlupakan bahkan terabaikan oleh kita sendiri yang merasa sebagai bangsa Indonesia.

(more…)

Dengan uraian tersebut di atas sebagai dasar pemikiran, sudah menjadi jelas kiranya, bahwa kehidupan Kepercayaan terhadap Tuhan YME tidak merupakan yang terpisah dari Masyarakat, Bangsa dan Negara.
Bahkan harus dapat menjadi tiang Negara yang menunjang usaha Pemerintah dalam melaksanakan Pembangunan Nasional pada khususnya dan U.U.D.45 dan Pancasila pada umumnya.
Dan karena sikap mentalnyalah setiap warga Kebatinan selayaknya berusaha menjadi suri-tauladan yang baik dalam lingkungan keluarga rumah tangga pada khususnya dan masyarakat serta Negara pada umumnya.

Akhirnya kalam kepada Hadirin sekalian kami mengucapkan terima kasih banyak atas segala perhatiannya.

Jakarta, 11 Oktober 1976
Dewan Musyawarah Pusat
Aliran Kebatinan
“Perjalanan”

Terima kasih sudah mendayagunakan dokumen ini!

Dalam segi kebudayaan yang menonjolkan kebatinan di segala aspeknya, ialah wayang, yang penggemarnya sangat luas di pelbagai lapisan dan golongan masyarakat yang umurnya tua sekali, bahkan pernah dinyatakan 2000 tahun lebih.
Menurut “sekaol” (sahibul hikayat) yang pertama-tama membuat cerita wayang, ialah Prabu Palasara. Kemudian berturut-turut menyusun cerita wayang:

Empu Sindhusastra     cerita Arjuna Sasrabahu
Empu Darmaya     cerita Smaradhanana
Empu Kanwa     cerita Arjuna Wiwaha
Empu Sedah     cerita Bathara Yudha
Empu Triguna     cerita Kresnayana
Empu Manoguna     cerita Sumanasantaka
Empu Panuluh     cerita Hariwangsa dan Gatotkacasraya
Empu Tantular     cerita Arjuna Wijaya

(more…)

Adalah suatu kenyataan mutlak, bahwa kebatinan menjelujuri kehidupan Bangsa, khususnya di Pulau Jawa sebagai tradisi.
Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya upacara tradisional dalam masyarakat seperti:

I.    Kehidupan.

a.    Selamatan 7 bulan kandungan (hamil)
b.    Khitanan
c.    Perkawinan
d.    Kematian: Nyusur tanah, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, mendak (1 tahun), 1000 hari.

II.    Penghidupan.

a.    Menanam padi
b.    Memotong padi
c.    Membangun rumah
(more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.