BAB I
NAMA DAN AZAS

Pasal 1

Nama, tempat:

Nama dan tempat: Aliran Kebatinan “PERJALANAN” berkedudukan di mana Dewan Musyawarah Pusat berada.

Penjelasan:

Kebatinan “PERJALANAN” diilhamkan kepada (1).Mei Kartawinata, (2).M.Rasid, (3).Soemitra, pada jam 12.00 hari Sukra (Jum’at) Kliwon, tanggal 19 Hasyuyi (Maulud) tahun 1858 (Saka), jatuh pada tanggal 17-9-1927 di Cimerta, Subang.

Pasal 2

Azas:

Aliran kebatinan “PERJALANAN” berazaskan Pancasila.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa,

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,

3. Persatuan Indonesia,

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penjelasan:

PANCASILA yang timbul dari sumber kesadaran rakyat Indonesia, mengandung unsur-unsur perdamaian untuk seluruh umat manusia.

Dalam Pancasila ini juga terhimpun inti-sari dari pada keinsyafan batin dan pikiran yang bertujuan menyempurnakan kehidupan peri-kemanusiaan dalam bidang kelahiran dan kebatinan. Maka dari itu Pancasila adalah satu-satunya azas yang paling tepat untuk menjamin kesejahteraan lahir batin, baik secara falsafah kenegaraan, maupun falsafah hidup peri-kemanusiaan dan Ketuhanan YME.

Pasal 3

Sifat:

Aliran Kebatinan “PERJALANAN” bersifat kekeluargaan peri-kemanusiaan yang terpimpin yang dilakukan sepenuhnya secara gotong royong.

Penjelasan:

Supaya terwujudnya kekeluargaan peri-kemanusiaan yang hidup adil dan sejahtera (damai), haruslah diselenggarakan lebih dahulu usaha-usaha yang menjamin ketenteraman dan keamanan kekeluargaan rumah tangga, baik lahir, maupun batinnya, di samping usaha-usaha itu pun harus diadakan juga pemberantasan secara tegas dan sadar terhadap penyakit yang berbahaya bagi peri kehidupan-kemanusiaan, yaitu M Pitu (M 7):

1. Maen: Mencari uang atas kartu. Kenyataannya: Tidak percaya atas kemampuan dan kekuatan dirinya pribadi; mencari keuntungan kebendaan dan kesenangan tanpa menghiraukan kerugian pihak lain.

2. Maling: Gelap budi dan pekerti manusianya. Kenyataannya: memperkosa dan merampas haknya sesama hidup.

3. Madon: Ngumbar syahwat. Kenyataannya: Tidak mempunyai harga/kehormatan diri pribadi, dan membahayakan kehidupan anak dan keturunan.

4. Mabok: Ngumbar nafsu. Kenyataannya: Edan eling, lupa kepada purwa duksina.

5. Madat: Lemah akal dan pikiran. Kenyataannya: Mencari sejatining ilmu sambil melupakan dirinya sendiri.

6. Mangani: Ngrasani, upat-simuat. Kenyataannya: Ingin menjadi orang baik tapi adat kelakuannya hanya menjelekkan dan merendahkan derajat sesama hidupnya.

7. Mateni: Membunuh. Kenyataannya: Membunuh rasa dan sifat manusianya, membangun adat kesetanannya, sudah mati sebelum mati, yang hidup angkara murkanya. Buktinya: Galak, kejam telenges, loba dan tamak, senang merusak rumah tangga orang lain, mengacaukan penghidupan dan kehidupan sesamanya.

Ketenteraman dan keamanan dalam lingkungan kekeluargaan rumah tangga ini, adalah dasar mutlak untuk menegakkan perdamaian sesuatu bangsa dalam negaranya yang sanggup mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri, yang secara tegas dan dasar pula menjamin hak-hak dan kebebasan dasar manusia.

Kekeluargaan peri-kemanusiaan harus hidup di seluruh lapisan dan golongan dalam masyarakat secara merata dan atas rasa tanggung jawab bersama secara gotong royong untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan lahir-batin.

Untuk kepentingan kesemua itu dibutuhkan suatu organisasi yang teratur rapih dan terpimpin yang meletakkan tanggung jawab atas golongan yang terbesar (mayoritas) dalam masyarakat untuk memimpin dan memberi perlindungan serta jaminan-jaminan kebebasan azasi terhadap golongan minoritas.

Segala persoalan yang mengenai kepentingan bersama diperbincangkan atas dasar musyawarah, dengan diambil putusan secara mufakat.