Kebatinan “Perjalanan” LAHIR pada tanggal 17 September 1927 di Cimerta, Subang, diilhamkan kepada Almarhum Bapak-bapak Mei Kartawinata, M. Rasid, dan Sumitra.
Dalam kehidupan Kebatinan “Perjalanan” tidak mengenal adanya Guru dan Murid. Yang ada adalah sifat kekeluargaan yang sama derajat tanpa memandang kedudukan sosial antara warga-warganya, baik petani, buruh, atau pegawai negeri sekalipun.
Kebatinan “Perjalanan” tidak berkiblat pada suatu Agama yang oleh sebab itu ajarannya tidak bersumber pada suatu kitab tertentu.

Cara mengembangkan ajarannya melalui anjangsana antar warga, sarasehan, atau pada setiap kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan itu sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan.
Untuk memelihara hubungan baik antar warga, terutama agar dapat memperoleh data dan fakta mengenai perkembangan kewargaan, pada tanggal 17 September 1955, dibentuk Organisasi Aliran Kebatinan “Perjalanan” yang pimpinannya baik di pusat maupun di daerah, dilakukan secara musyawarah dalam bentuk Dewan Musyawarah tingkat Pusat dan Daerah. Sifat musyawarah dari kepemimpinan itu menimbulkan tanggung jawab moril yang patut diperhatikan, seperti:

a.    Tiadanya egoisme (mementingkan diri sendiri)
b.    Tiadanya individualisme (selalu menyendiri tanpa menghiraukan orang lain)
c.    Tiadanya sifat kekanak-kanakan (ingin disanjung dan dipuja)
d.    Tiadanya sifat ketua-tuaan (tidak mau dikoreksi, merasa lebih benar sendiri)

sebab seharusnya:

1.    Bersifat jujur, terhadap diri sendiri dan orang lain,
2.    Bersifat adil (berdiri di atas kebenaran tanpa pilih bulu),
3.    Mempunyai harga diri,
4.    Cinta terhadap sesama.

yang kesemua itu harus dilakukan secara nyata (tiada kenyataan yang melebihi perbuatan).

Justru karena itu suasana kehidupan dalam kepemimpinan organisasi akan merupakan gelanggang pengabdian terhadap masyarakat dengan slogan: “Apa yang harus dapat diabdikan kepada masyarakat, dan bukan sebaliknya apa yang diharapkan dapat diperoleh dari masyarakat.”

Mengenai nama Perjalanan, hanyalah sebagai ketegasan bahwa baik atau buruknya sesuatu maksud/tujuan baru akan tercapai, jikalau itikadnya itu dijalankan secara konsekuen.

Dalam hal ini kebatinan “Perjalanan” mengambil contoh air yang mengalir mulai dari sumbernya melalui kali (sungai), hingga sampai di lautan.

Hakekat kali (sungai) itu sendiri, adalah bersatu padunya secara mutlak dari sekian banyaknya tetesan air yang kemudian bersama-sama, tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya bergerak menuju lautan.

Dalam perjalanannya itu air telah melakukan darmanya memberi minum kepada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan serta keperluan hidup umat pada umumnya untuk kebersihan, sumber kekuatan dan lain-lain yang sangat dibutuhkan untuk kesejahteraan dunia dan isinya.

Alangkah indahnya kehidupan masyarakat di dunia, apabila setiap insan yang menjadi anggota masyarakatnya itu bersatu padu, selama masa perjalanan hidupnya, membaktikan darma dan karmanya demi untuk kesejahteraan bersama (sosialisme) lahir batin.

Padahal manusia itu sendiri disebut mahluk sosial, yang sewajarnyalah menempuh hidup sosialistis, yang tidak mementingkan dirinya, keluarga dan atau golongannya sendiri.

Dalam masyarakat sosialistis ini, setiap anggota masyarakat harus dapat meleburkan kepentingan dirinya dalam kepentingan umum masyarakatnya.

Sebaliknya masyarakat itu sendiri akan melindungi, bahkan mengembangkan kepentingan setiap anggotanya supaya maju, selama kepentingannya itu tidak menyimpang atau merugikan kepentingan umum.
Dengan demikian setiap insan akan merupakan tenaga hidup yang dapat menggerakkan mekanisme masyarakatnya, kesemuanya merupakan tenaga aktif/kreatif bagaikan butir-butir darah merah yang memberi daya hidup jasmani kita.

Dalam hal ini harus diingat, bahwa Pancasila itu sendiri adalah RELIGIOUS SOSIALISME, yang tegasnya setiap penghayat Pancasila haruslah insan sosialistis yang religious tidak materialistis atheis.

Di sini tampak jelas peranan kehidupan religious berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dalam Negara yang berdasar Pancasila yang harus memberi warna pada kehidupan Pancasila.

Oleh sebab itu kehidupan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, harus dapat bergetar dalam segala sendi kehidupan masyarakat dan Negara sebagai alat pengamanan dan pengamalan Pancasila.

Tegasnya setiap insan penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, harus mengambil bagian secara positif/aktif tidak negatif/pasif.
Sikap positif/aktif ini Aliran Kebatinan “Perjalanan” menggambarkannya sebagai “STROOM” seperti tercantum dalam lencana organisasinya, lambang kekuatan yang bergetar dalam alam semesta dan dalam jasad manusiawinya.
Terima kasih sudah mendayagunakan dokumen ini!