Dengan keterangan tersebut di atas, maka segala keadaan alam semesta menjadi bukti tentang Ada Nya Tuhan Yang Maha Esa, sebab jika tidak ada Tuhan, tidak akan ada sesuatu apapun di dunia/jagad raya ini.
Namun demikian segala keadaan itu sendiri, meskipun berasal dari, dipurba dan diunsuri oleh AdaNya Tuhan Yang Maha Esa, tidak boleh disebut Tuhan, sebab Tuhan tiada warna dan tiada rupa, tiada arah dan tiada tempat.
Dalam hal ini dapat diambil perbandingan (sekalipun tidak dapat dipersamakan dengan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa,) seperti berikut:

1.    Pusatnya air adalah lautan. Karena proses alamiah, atau dengan cara tertentu (kimiawi) air laut bisa membeku atau dibekukan yang kemudian disebut es.

Pada hakekatnya es itu tetap air adanya, sebab dari bagian paling luar hingga dalam-dalamnya adalah air; hanya saja dalam keadaan membeku. Selama air laut itu tetap pada sifatnya yang baru (es), meskipun terapung-apung di laut, namun es tidak dapat disebut air laut.

Dalam hal ini tampak dan dapat dirasakan dengan jelas bahwa sifat dan fungsinya antara es dan air laut yang menjadi asalnya sangat berbeda. Laut yang maha luas dapat menghidupi semua penghuni yang ada di dalamnya, seperti: ikan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain. Akan tetapi es tidak mempunyai fungsi itu serta kemampuannya sangat terbatas. Demikian pulalah perbedaannya antara Tuhan Yang Maha Esa, dengan umat Nya.

Untuk dapat mengetahui asal-usul umat, dan Ada Nya Tuhan Yang Maha Esa, serta hukum Nya yang mutlak tidak terpisahkan dari segala kehidupan dan penghidupannya, harus ditelusuri diri kita sebagai bukti yang nyata.

Menurut peribahasa sunda: Nyungsi diri nyuay badan angilo paesan tunggal. Adapun yang disebut diri adalah:

Lahir     :     Badan wadag, yang digerakkan oleh batin.
Batin     :     Badan halus, yang menggerakkan lahir.
Adapun Sang Aku, ialah yang mempunyai itikad, yang untuk kesampaian itikadnya itu mempergunakan lahir dan batin sebagai alat.
Dengan perkataan, Sang Aku dapat menyaksikan dan menikmati keadaan dunia dengan isinya, justru karena adanya lahir dan batin itu. Tegasnya Sang Aku ini bukanlah lahir dan batin itu. Lebih tegasnya Sang Aku ini bukanlah lahir dan juga batin, akan tetapi yang mempergunakan lahir dan batin untuk kepentingannya.
Lahir berasal dari Wujud Tuhan, Batin berasal dari Kuasa Tuhan, Aku berasal dari Tuhan.

Keterangannya adalah sebagai berikut:
WUJUD NYA Tuhan Yang Maha Esa, ialah Zat Nya Rasa Tuhan (Rasa Jati). Rasa Jati adalah asal dari segala asal rasa dunia.
Zat Nya Rasa Dunia, selama masih belum mempunyai wujud yang nyata, tetap belum mempunyai nama. Setelah rasa itu mempunyai bentuk wujud, baharulah ia mempunyai nama seperti:

1).     Zat-nya panas     :     wujudnya api.
Sifatnya api     :     adalah merah.
Namanya     :     tergantung menurut bahasa masing-masing.
Kenyataannya     :     sesudah ada dan dapat disaksikan.
2).     Zat-nya sejuk semilir     :     wujudnya angin.
Sifatnya angin     :     adalah kuning.
Namanya     :     menurut bahasanya masing-masing.
Kenyataannya     :     sesudah ada dan dapat disaksikan.
3).     Zat-nya dingin     :     wujudnya air.
Sifatnya air     :     adalah putih.
Namanya     :     menurut bahasanya masing-masing.
Kenyataannya     :     sudah ada dan dapat disaksikan.
4).     Zat-nya tetap     :     wujudnya bumi.
Sifatnya bumi     :     adalah hitam.
Namanya     :     menurut bahasanya masing-masing.
Kenyataannya     :     sesudah ada dan dapat disaksikan.
Dan adanya api, angin, air dan bumi, maka tersusun dan terbentuklah kejadian-kejadian baru, yang diunsuri oleh sari pati 4 (empat) wujud tadi, seperti timbulnya zat, sifat, nama dan kenyataan-kenyataan dari pada kejadian baru itu, antara lain: Jasad lahir kita.
Dari Kuasa Nya Tuhan yang tumerap pada jasad lahir maka umat mempunyai:

·    Mubah musik yang berasal dari yang Kuasa.

·    Kemauan yang berasal dari yang Kersa.

·    Pengetahuan yang berasal dari yang Uninga.

·    Hidup yang berasal dari yang Hidup.

·    Dengar yang berasal dari yang Ngrungu.

·    Lihat yang berasal dari yang Tingali.

·    Ucap yang berasal dari yang Ngandika.

Sekiranya tiada PenguasaNya Tuhan Yang Maha Esa seperti tersebut di atas, maka Umat Nya:

·    tidak bakal dapat: mubah musik,

·    tidak bakal dapat: mempunyai kemauan,

·    tidak bakal dapat: mempunyai pengetahuan,

·    tidak bakal dapat: hidup,

·    tidak bakal dapat: mendengar,

·    tidak bakal dapat: melihat,

·    tidak bakal dapat: mengucap.

Bahkan Sang AKU sendiri berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa itu tiada warna dan rupa, tiada arah dan tempat. Justru karena AKU berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, maka AKU juga tiada rupa, tiada warna, tiada arah dan tempat. Jikalau Tuhan Yang Maha Esa, Murba atas alam semesta serta segala penghuni dan isinya, AKU hanya Murba atas badan sekujur.

0    Dengan bukti tersebut di atas mewajibkan setiap Insan untuk kumawula (mengabdi) sebagai Kaula Gusti terhadap Gusti Kaula (Tuhan Yang Maha Esa), dengan cara:

1. Kuasa     :     mewujudkan kesucian, sebab Tuhan itu Kuasa Maha Sucinya.
2. Mau     :     mewujudkan kesucian, sebab Tuhan itu Kersa Maha Sucinya.
3. Tahu     :     mewujudkan kesucian, sebab Tuhan itu Uninga Maha Sucinya.
4. Menghidupkan     :     lahir batin untuk mewujudkan kesucian sebab Tuhan itu Hidup Maha Sucinya.
5. Mendengarkan     :     adanya kesucian, sebab Tuhan itu Ngrungu Maha Sucinya.
6. Melihat     :     adanya kesucian, sebab Tuhan itu Tingali Maha sucinya.
7. Mengucap     :     kesucian, sebab Tuhan itu Ngandika Maha Sucinya.
2. Tidak akan mempersamakan/membandingkan Tuhan Yang Maha Esa dengan segala sesuatu keadaan dunia, dan atau menyembah kepada:

·    Alam,

·    Suwung (batin),

·    Cahaya (pengetahuan),

·    Yang berada di alam (hawanya Alam/Robani),

·    Wujud kejadian baru (dunia),

·    Nafas (jiwanya kehidupan yang menjalankan darah),

·    Ingatan (yang ada tandingannya lupa).

3. Sewaktu-waktu bertemu dan berhadapan serta merasakan sesuatu keadaan, supaya merasa berhadapan dengan Tuhan, sebab yang mengadakan dan yang murba/mengunsuri segala keadaan itu, adalah Tuhan. Justru karena itu harus bertindak jujur, dan adil terhadap sesamanya berdiri di atas segala kebenaran.

4. Memandang kepada diri orang lain seperti terhadap dirinya sendiri, karena umat Tuhan adalah sama (tunggal) yang berbeda adalah sifat dan fungsinya, tapi bukan hakekatnya, supaya dapat manunggal (hidup rukun/bersatu) dalam wujud Tuhan Yang Maha Esa, (satu untuk semua, semua untuk satu, selamat menyelamatkan demi kesejahteraan hidup bersama lahir batin –Religious Sosialisme–).

0    5. Tahu dan mencintai diri sendiri dan yang menjadi lantaran kelahirannya di alam pawenangan (dunia) yaitu Ibu dan Bapak. Mau membina kehidupan/penghidupan Bangsa. Bahasa, Tanah Air, budi daya/kepribadian bangsanya supaya hidup berkembang dalam suasana Negara Merdeka/berdaulat berdasarkan Panca Sila sesuai dengan sifat kodrat dan adat istiadatnya.

6. Menegakkan sendi-sendi hidup Ke Tuhanan Yang Maha Esa, dengan cara:

·    Mendahulukan kebaikan, sebab Tuhan itu terdahulu Maha Sucinya.
·    Mewujudkan kebaikan, sebab Tuhan itu Wujud Maha Sucinya.
·    Mengekalkan kebaikan, sebab Tuhan itu Kekal Maha Sucinya.
·    Membedakan antara yang wajib dan tidak wajib adanya pada sifat Tuhan (Belas dan Kasih) sebab Tuhan itu Beda Maha Sucinya.
·    Mendirikan kebaikan, sebab Tuhan itu Tunggal Maha Sucinya.
·    Hidupnya mempunyai akal dan pekerti, batin yang utama.
·    Suhud dalam melakukan kebaikan.
·    Tahu segala akibat dari pada perbuatan yang akan dilakukan (waspada).
·    Mempunyai itikad dengan dasar akal dan pikiran, melakukan segala kebaikan karena tahu akan segala akibat dari pada perbuatannya itu yang akan membawa keselamatan lahir batin bagi sesama hidupnya.

7. Cinta terhadap sesama hidup dengan cara:
·    Di hadapan Tuhan Yang Maha Esa memandang semua manusia adalah sama, yang patut dihargai manusiawinya secara layak. Yang berbeda hanyalah darma dan karmanya sesuai dengan kemampuan.
·    Membantu yang butuh, menolong yang susah, menyumbang pada yang kurang, membela pada yang lemah.
·    Memberi petunjuk dan bimbingan yang mengarah kepada kebahagiaan hidup lahir dan batin.
·    Merasakan terhadap sesama, sebab manusia itu tunggal (sama).

8. Akunya harus manunggal dengan Tuhannya, kumawula kepadaNya dengan usaha, supaya dunia dan isinya bermanfaat dan dapat dirasakan nikmatnya oleh segenap umatNya secara adil dan merata.