Batin, artinya soal “dalam”, soal kesunyataan, soal kebenaran, soal hakekat.
Batin sebagai soal dalam karena tidak dapat dilihat dengan mata kepala, tak dapat diraba dengan panca indera, karena sifatnya gaib.
Batin menerima kasunyatan, karena hakekat batin adalah penguasa Nya Tuhan Yang Maha Esa, yang tumerap pada UmatNya seperti:

1. Otak     dengan elingannya.
2. Kuping     dengan dengarnya.
3. Mata     dengan lihatnya.
4. Mulut     dengan ucapnya.
5. Hidung     dengan ciumnya.
6. Tangan     dengan ubahnya.
7. Kaki     dengan langkahnya.
8. Hati     dengan pikirnya.
9. Syaraf     dengan rasanya.
yang oleh karena kesemuanya itulah umat dapat menerima sebagai kesaksian mutlak tentang adanya sesuatu keadaan dan rasanya, baik yang ada di luar, maupun dalam dirinya sendiri.
Segala sesuatu yang diterima oleh batin, adalah kebenaran mutlak, sebab bukan lagi berupa keterangan ataupun petunjuk menurut kata-kata orang lain akan tetapi benar-benar telah diketahui dan disaksikan adanya, seperti yang disebut gula yaitu wujudnya dan yang disebut manis adalah rasanya.
Maka kebatinan adalah mutlak tentang persaksian adanya Tuhan Yang Maha Esa, yang PenguasaNya tumerap pada setiap Umat.

Kebatinan, adalah mutlak tentang persaksian adanya Tuhan dan Zat-Nya, Rasa tuhan (Rasa Jati) asal dari segala asal rasa dan keadaan dunia.
Kebatinan adalah mutlak persaksian bahwa Insan berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Kebatinan memberikan persaksian bahwa Tuhan Yang Maha Esa, dengan KawulaNya itu Tunggal (tidak berpisah), karena segala mubah musiknya Kawula itu oleh Penguasanya Tuhan.
Kebatinan memberikan persaksian mutlak adanya Patokan Tuhan yang semesta, sesuai dengan Maha Kuasanya Tuhan.

Oleh sebab itu yang berkepentingan akan mengaku dan merasa hidupnya di dunia sekedar melakukan darma dan karmanya sebagai Kawula Tuhan untuk berusaha mengurus dan mengatur dunia dan isinya (sesuai dengan kemampuannya) demi kebahagiaan hidup bersama. Maka setiap Insan Kebatinan pada hakekatnya adalah INSAN PEMBANGUNAN.
Bahwasannya untuk dapat saling selamat menyelamatkan Tuhan memberkati semua umat-Nya dengan anggota badaniah dan rohaniah yang sempurna.
Bahwasannya kesemua itu menunjukkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Umat-Nya sekedar mengakui dan menggunakannya, tetapi pada hakekatnya kesemua itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa. “Semua sembah dan puji hanyalah untuk Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai sifat belas dan kasih.”

Bahwasannya semua kejadian baru yang diunsuri oleh sari patinya: api, angin, air, bumi dan sari rasanya alam serta kelahirannya di alam pawenangan dilantarankan oleh Ibu dan Bapak. Maka setiap Insan wajib menghormati/menghargai Ibu/Bapak dan Leluhurnya di samping mencintai anak dan keturunannya.
Ia harus menjadi penebus terhadap Leluhurnya dan penyelamat bagi anak keturunannya.
Bahwasannya dalam pergaulan hidup bersama harus tahu/mengerti:

Tata tertib:     agar segalanya tertib dan teratur rapi.
Tata titi:     memperhatikan undak usuk, sebab kedudukan manusia dalam pergaulan tidak sama.
Tata krama:     harga menghargai dan hormat menghormati antar sesama umat.
Tata susila:     menggunakan kesopanan, tingkah laku, sesuai dengan waktu, tempat dan keadaan.
Tata Negara:     tahu kewajiban sebagai warga negara yang baik hidup di tengah-tengah pergaulan Bangsa dan Negara.
LAHIRNYA: Tunduk pada peraturan Pemerintah/Negara berdasarkan Pancasila tidak melakukan M7 (Main, maling, Madon, Mabok, Madar, Mangani dan Mateni).
BATINNYA: Saling rasa merasakan terhadap sesama hidup. Tidak iri dengki, jahil aniaya terhadap sesamanya. Memandang terhadap diri orang lain, seperti terhadap dirinya sendiri.
AKUNYA: Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan menggunakan lahir batinnya untuk keselamatan hidup bersama.

Terima kasih sudah mendayagunakan dokumen ini!