Seperti telah menjadi pengertian umum PANCASILA adalah Religious Sosialisme (Religious Socialist), maka tidak dapat diartikan lain, bahwa di dalam tubuh Pancasila terdapat kehidupan religi yang menjiwai sosialisme, atau sebaliknya, sosialisme sebagai perwujudan kehidupan religious, yang satu memberi isi, yang lainnya menunjukkan wujudnya.

Sebagai falsafah hidup, Pancasila merupakan rangkaian yang tak terpisahkan, bagaikan lingkaran yang tiada ujung pangkal antara sila yang satu dengan yang lainnya.

Mengambil hanya sebagian saja dari Pancasila, berarti putusnya rangkaian, sehingga tidak dapat dinikmati secara keseluruhan/utuh.
Maka untuk mengurai Pancasila dari segi religi harus dimulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa, dan seterusnya.
Dalam pada itu Pancasila merupakan saling isi mengisinya antara sila yang satu dalam sila yang lainnya seperti berikut:

1. KETUHANAN YANG MAHA ESA

Yang hidup ber Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah manusia yang adil dan beradab.

2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

Yang hidup kemanusiaan adil dan beradab, ialah bangsa yang bersatu, (Persatuan Indonesia).

3. PERSATUAN INDONESIA

Bangsa yang hidup dalam persatuan Indonesia, tentu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAH KEBIJAKSANAAN DALAMPERMUSYAWARATAN PERWAKILAN

Yang hidup kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, melaksanakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

5. KEADILAN SOSIAL YANG MERATA BAGI SELURUH RAKYAT

Keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat, adalah perwujudan dari masyarakat ber Ketuhanan Yang Maha Esa mengadakan dunia dan isinya untuk kesejahteraan Umat Nya.
Untuk menghayati Pancasila, setiap anggota masyarakat, wajib berusaha, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama supaya:

CAGEUR (SEHAT):

Lahirnya berkecukupan sandang, pangan, papan.
Batinnya: mempunyai perasaan terhadap sesama hidupnya, tidak iri dengki, jahil aniaya, terhadap sesama hidupnya (Sosialistis = masyarakat adil makmur).

BAGEUR (BAIK) KELAKUANNYA:

Tulung tinulungan terhadap sesama hidup, tidak merebut/memperkosa hak azasi orang lain (Demokrasi = Kedaulatan Rakyat).

BENER (BENAR) PENGETAHUANNYA:

Berdiri di atas kebenaran, hidup menurut kodratnya sebagai Bangsa yang mempunyai bahasa, kebudayaan dan Tanah Air, hidup merdeka berdaulat di Negaranya (NASIONALISTIS = KEBANGSAAN).

PINTER AKUNYA:

Melakukan segala pekerjaan yang wajib adanya dalam wujud Tuhan Yang Maha Esa memandang terhadap diri orang lain seperti terhadap dirinya sendiri, karena manusia itu Tunggal (Humanistis = Kemanusiaan).

SELAMAT HIDUPNYA:

Saling hormat, menghargai mendambakan hidup rukun dan damai tanpa memandang perbedaan ras dan keturunan, kepercayaan dan agama, sebab segala umat dan seisinya jagad dijadikan/dijelmakan oleh Tuhan Seru Sekalian Alam, Tuhan dari segala umat (MONOTHEISTIS = KETUHANAN YANG MAHA ESA).
Dari sebab itu jelas, bahwa sikap mental yang menentukan dalam mengisi dan menghayati Pancasila, karena sifat religious disamping kecerdasan pikir harus ada keseimbangan antara kemampuan Batiniah dan Lahiriah.

Dalam hal ini sikap rasa (batin) tercermin dalam daya pikir (sikap lahir yang positif) untuk dilaksanakan secara kongkrit (perbuatan nyata) dalam kehidupan bermasyarakat.
Tegasnya antara Rasa, Pikir, dan perbuatan selalu isi mengisi.
Segala perbuatan hendaknya didasarkan pikiran yang matang, setelah cukup diyakini tidak akan mengganggu perasaan sesama hidup.

Terima kasih sudah mendayagunakan dokumen ini!